Merayakan 'Hardiknas' Versi Zaman Now

Ki Hajar Dewantara
Sumber: madsalman

Hai gengs! Kalian masih pada inget gak sih, 2 Mei itu diperingati sebagai hari apa? Ya, tepat sekali, 2 Mei merupakan Hari Pendidikan Nasional atau yang dikenal dengan singkatan Hardiknas. Nah, Hardiknas bertepatan dengan hari kelahiran sosok pejuang bangsa kita yaitu Ki Hajar Dewantara.

Ki Hajar Dewantara lahir di Yogyakarta pada tahun 1889. Beliau merupakan sosok pejuang pendidikan nasional. Salah satu filosofi dan hasil karya beliau yakni kutipan “Tut Wuri Handayani”. Kutipan tersebut dijadikan motto, slogan, dan menjadi landasan pendidikan yang masih digunakan hingga saat ini.

Pada tanggal 26 April 1959, beliau wafat tepatnya pada usia 70 tahun. Berkat usaha dan kerja kerasnya dalam merintis dan memperjuangkan pendidikan di tanah air, beliau dinobatkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia atas dasar Surat Keputusan Presiden RI No. 305 pada 28 November 1959.

Pendidikan memang hal yang sangat penting. Keberadaan pendidikan membuat pikiran kita menjadi terbuka. Kita tidak lagi memandang suatu hal hanya dengan satu sudut pandang saja. Kita tidak lagi memandang seseorang berdasarkan stereotip dari mana dia berasal. Seperti, orang Tionghoa itu ‘pelit’, orang Batak 'kasar', dan suku lainnya.

Namun, jauh sebelum kita bisa mengenyam pendidikan, ada masa kelam mengenai pendidikan yang dialami oleh masyarakat Indonesia. Tepatnya, hal ini terjadi ketika masa penjajahan pemerintahan kolonial Belanda. Pada masa itu, hanya orang kaya dan keturunan Belanda saja yang bisa memperoleh pendidikan.

Untung saja kita memiliki pahlawan seperti Ki Hajar Dewantara yang mau memperjuangan pendidikan. Jika tidak, coba kalian bayangkan, mungkin hingga detik ini tidak ada pendidikan, kita tidak akan tau rasanya bersekolah, mengenal internet, dan lain sebagainya.

Hardiknas Zaman Now
Pendidikan membuat kita menjadi lebih produktif. Hal ini ditunjukkan oleh SMAN 1 Rangkasbitung yang merayakan Hardiknas dengan cara yang ‘kekinian’. Bukan hanya melakukan upacara, namun ada kegiatan lain yang bisa kita lakukan untuk merayakannya, seperti membuat short movie.

Siswa bukan hanya melakukan “siap grak! Istirahat di tempat!” atau aktivitas upacara lainnya. Seringkali siswa dipandang nakal dan tidak melakukan apapun selain belajar di kelas, mengikuti kegiatan ekstrakulikuler, dan sebagainya. Namun, berbeda di tahun 2018 ini.

Pendidikan membuat siswa menjadi ‘melek media’ dan mampu menggunakan media untuk menyebarkan konten-konten yang bersifat positif. Pada video yang diunggah oleh akun Paguma Lebak dengan judul “SMAN 1 Rangkasbitung: Paguma Hardiknas 2018” menjadikan Youtube sebagai media kreatif untuk memposting videonya.

Lomba short movie yang bertemakan Hardiknas 2018 diadakan oleh Paguma. Hal ini dapat meningkatkan produktivitas seluruh siswa di Indonesia agar siswa bukan hanya belajar di sekolah tetapi juga mengembangkan pengetahuan dan kemampuannya untuk membuat video yang kreatif.

"Tujuan paling prinsip dari pendidikan adalah menciptakan manusia yang mampu melakukan hal-hal baru, tidak hanya mengulangi apa yang dilakukan generasi sebelumnya, manusia yang kreatif, memiliki daya cipta, dan penemu" - Jean Piaget.



Referensi :
https://www.kembar.pro/2016/05/Makna-dan-Sejarah-Hari-Pendidikan-Nasional-HARDIKNAS.html

Komentar